Sabtu, 07 Mei 2011

SEJARAH SUNAN BUNGKUL

SEJARAH SUNAN BUNGKUL

Saat berada di kota Surabaya, tidak lengkap rasanya jika belum berkunjung ke Taman Bungkul di Jl Raya Darmo, sekaligus berziarah ke Makam Mbah Bungkul. Pada bulan Ramadan, banyak orang dengan berbagai keyakinan mendatangi tempat ini. Lelaki, perempuan, tua dan muda umumnya meyakini Mbah Bungkul adalah sosok kharismatik yang membantu perjuangan Raden Rahmat menyebarkan Islam di Jawa Timur khususnya.
Tidak sulit menemukan petilasan Mbah Bungkul. Setelah berada di kawasan Wonokromo atau yang dikenal dengan Kebun Binatang Surabaya (KBS), jika datang dari selatan Surabaya, bisa berjalan ke utara menuju Jl Raya Darmo pasti akan mendapati Taman Bungkul. Atau, jika dari utara dan telah berada di Dermaga Ujung, Tanjung Perak, bisa melanjutkan ke tengah kota dan menuju Jl Raya Darmo. Dan, jika masuk dari arah barat atau Gresik, juga langsung saja mencari arah ke Jl Raya Darmo yang berada di tengah kota Surabaya. Sesampai di lokasi ini, umumnya pengunjung melakukan sholat di surau kecil yang dulu dibangun Mbah Bungkul bersama Raden Rahmat. Kemudian, bisa dilanjutkan berziarah di makam Mbah Bungkul dan sejumlah pengikutnya yang terhampar di satu lokasi berdekatan. Usai berziarah, pengunjung bisa menikmati satu lagi keajaiban yang hingga saat ini masih terjaga, yakni menikmati air sumur buatan Mbah Bungkul dan Raden Rahmat untuk diminum.
Tetapi siapakah sebenarnya Mbah Bungkul itu? Ada catatan mengisahkan, tempat ini, 700 tahun silam sebelum bernama Surabaya, dikenal dengan sebutan ”Pertapaan Mbah Bungkul”. menurut sumber yang didapat oleh penulis dari juru kunci makam mbah bungkul kapan dan dimana mbah bungkul dilahirkan tidak dapat diketahui dengan pasti, beliau hanya saja menyebutkan bahwa sebelum sunan ampel datang mbah bungkul sudah berada di Surabaya.
Konon, Raden Rahmat atau Rahmatullah (kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel) diyakini pernah singgah di tempat ini setelah berbulan-bulan melakukan perjalanan dengan naik perahu dari Trowulan, Majapahit (sekarang Mojokerto, Jatim). Raden Rahmat singgah di tempat ini saat tengah menyusuri Kalimas sebelum menuju ke kawasan Ampel Denta (kawasan Surabaya Utara). Dalam catatan ahli sejarah Belanda bernama GH Von Faber, di sebuah bukunya berjudul Oud Soerabaia ditulis, Bungkul, saat jaman kolonial sengaja tidak dikenalkan jati diri sebenarnya.
Entah apa maksudnya, yang jelas dalam buku itu tertulis, orang akan diganjar hukuman dan akan celaka atau (kualat=bahasa Jawa), jika mencoba menelisik siapa sebenarnya Mbah Bungkul. Ageng dari Kerajaan Majapahit. Bagaimana hubungannya dengan Raden Rahmat. Ada yang menyebut sosoknya sebagai lelaki keturunan Ki Gede atau Ki Mbah atau Sunan Bungkul ini merupakan guru sekaligus tokoh spiritualnya Raden Rahmat sebelum menjadi Sunan Ampel.
Ada yang menyebut, Bungkul sebagai Ki Ageng Supo. Ada juga yang mengatakan Mpu Supo, sebutan orang tersohor yang memiliki kelebihan di zamannya. Setelah memeluk Islam, berganti sebutan menjadi Ki Ageng Mahmuddin. Karena lama berada di kawasan Bungkul, ia kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Bungkul. Sebutan itu melekat saat pertemuannya dengan Raden Rahmat. Dari cerita beberapa sumber, Rahmat kemudian lama ikut ngawulo atau menetap di kawasan Bungkul yang saat itu masih be Ada yang menyebut sosoknya sebagai lelaki keturunan Ki Gede atau Ki Mbah atau Sunan Bungkul ini merupakan guru sekaligus tokoh spiritualnya Raden Rahmat sebelum menjadi Sunan Ampel rupa hutan belantara.
Ada juga yang meyakini, Bungkul adalah orang terkenal di akhir kebesaran Kerajaan Majapahit di abad XV. kenapa orang ini meninggalkan kerajaan dan mengembara hingga ke daerah yang kemudian bernama Surabaya ini. Dipastikan, perjuangannya ikut membantu Raden Rahmat dalam syiar Islam di tanah Jawa membuat nama Bungkul semakin santer.
Tidak ada yang tahu atau literatur yang menyebut Awalnya Mbah Bungkul bernama Ki Ageng Supa. Sewaktu masuk Islam, berganti menjadi Ki Ageng Mahmuddin. Ia diperkirakan hidup di masa Sunan Ampel pada 1400-1481. Supa mempunyai puteri Dewi Wardah. Sahibul hikayat, Supa ingin menikahkan puterinya. Namun ia belum mendapatkan sosok yang diharapkan. Lalu Supa mengambil delima dari kebunnya dan bernazar,”Siapa pun lelaki yang mendapatkan buah ini, akan saya jodohkan dengan anakku”.
Delima itu dihanyutkan ke Sungai Kalimas yang mengalir ke utara. Alur air sungai ini bercabang di Ngemplak menjadi dua. Di percabangan kiri menuju Ujung dan ke kanan menjadi kali Pegirikan. Tampaknya delima itu berenang ke kanan. Karena suatu pagi santri Sunan Ampel yang mandi di Pegirikan Desa Ngampeldenta, menemukan delima itu. Sang santri pun menyerahkannya ke Sunan Ampel. Oleh Sunan Ampel delima itu disimpan. Besoknya, Supa menelusuri bantaran Kalimas. Sesampainya di pinggiran, ia melihat banyak banyak santri mandi di sungai. Supa, yakin disinilah delima itu diselamatkan oleh salah satu di antaranya. Apakah ada yang menemukan delima, tanya Supa setelah bertemu Sunan Ampel. Raden Paku, murid Ampel dipanggil dan mengaku. Singkat cerita Raden Paku dinikahkan dengan anak Supa.
Sunan Bungkul mungkin tidak setenar Sunan Ampel atau Sunan Giri.Tapi,sumbangsihnya dalam awal penyebaran Islam di tanah Jawa tak bisa diabaikan begitu saja.
Sebutan Mbah Bungkul kemudian terus bertengger, ini dimaksudkan sebagai orang pertama di wilayah itu. Namanya juga disejajarkan dengan tokoh perjuangan Islam tingkat lokal seperti Syeh Abdul Muhyi di Tasikmalaya, Jawa Barat, Sunan Geseng di Magelang, Sunan Tembayat di Klaten, Ki Ageng Gribig di Klaten, Sunan Panggung di Tegal, Jawa Tengah, dan Sunan Prapen di Gresik, Jawa Timur serta wali-wali lokal lainnya di Nusantara. Ada yang menyebut sosoknya sebagai lelaki keturunan Ki Gede atau Ki Mbah atau Sunan Bungkul ini merupakan guru sekaligus tokoh spiritualnya Raden Rahmat sebelum menjadi Namun siapa sosok sunan yang dimakamkan di Bungkul itu? Kisahnya tidak pernah menjadi mainstream cerita wali yang selalu didominasi kiprah sembilan wali. Jika setiap sehari-hari makam ini ramai, itu sekadar menjadi objek ziarah pelengkap setelah puas bertakziah ke makam Ampel. Nama Mbah Bungkul hanya ditemukan sekilas di catatan lawas Babad Ngampeldenta terbitan 2 Oktober 1901 yang naskah aslinya di Yayasan Panti Budaya Jogjakarta. Kecuali itu, juga ada Babad Risakipun Majapahit Wiwit Jumenengipun Prabu Majapahit Wekasan Dumugi Demak Pungkasan yang disimpan di Perpustakaan Reksopustoko Surakarta.
Sulitnya menemukan sosok ini bahkan dibenarkan sejarahwan mendiang GH Von Faber pada bukunya Oud Soerabaia, terbitan 1931. Faber mencatat kesan Bungkul dalam bahasa Belanda yang kira-kira terjemahannya demikian: Orang-orang tua melarang menceritakan apa pun tentang Bungkul ini. Pelanggaran terhadap larangan itu pasti diganjar hukuman. Si pelanggar akan diancam oleh jin, diisap darahnya oleh kelelawar, lehernya dipelintir dan sebagainya, demikian pula ibu, istri, dan anak-anaknya akan mendapatkan celaka.
Namun siapa sosok sunan yang dimakamkan di Bungkul itu? Kisahnya tidak pernah menjadi mainstream cerita wali yang selalu didominasi kiprah sembilan wali. Jika setiap sehari-hari makam ini ramai, itu sekadar menjadi objek ziarah pelengkap setelah puas bertakziah ke makam Ampel. Nama Mbah Bungkul hanya ditemukan sekilas di catatan lawas Babad Ngampeldenta terbitan 2 Oktober 1901 yang naskah aslinya di Yayasan Panti Budaya Jogjakarta. Kecuali itu, juga ada Babad Risakipun Majapahit Wiwit Jumenengipun Prabu Majapahit Wekasan Dumugi Demak Pungkasan yang disimpan di Perpustakaan Reksopustoko Surakarta.
Sulitnya menemukan sosok ini bahkan dibenarkan sejarahwan mendiang GH Von Faber pada bukunya Oud Soerabaia, terbitan 1931. Faber mencatat kesan Bungkul dalam bahasa Belanda yang kira-kira terjemahannya demikian: Orang-orang tua melarang menceritakan apa pun tentang Bungkul ini. Pelanggaran terhadap larangan itu pasti diganjar hukuman. Si pelanggar akan diancam oleh jin, diisap darahnya oleh kelelawar, lehernya dipelintir dan sebagainya, demikian pula ibu, istri, dan anak-anaknya akan mendapatkan celaka.
Saat ini, paling tidak dapat dijelasan bahwa sosok Mbah bungkul adalah keturunan Ki Gede atau Ki Ageng dari Majapahit. Tetapi bukti yang mengatakan hal tersebut sangatlah minim tidak seperti Sunan Ampel.
Selain di Taman Bungkul, sejumlah makam pengikut Bungkul banyak tersebar di kawasan Darmo. Sebagian sudah tergusur, beberapa masih bertahan. Salah satunya yang terdapat di depan Kantor Kecamatan Tegalsari Jl Tanggulangan, sekitar 100 meter dari Jl Raya Darmo atau 300 meter sebelah utara makam Mbah Bungkul. Namanya makam Mbah Kusir, diyakini kusirnya Mbah Bungkul.

1 komentar: