free counters

Sabtu, 16 April 2011

GRAZY


 oleh: Abdurrahman Al-Anwari
I am sad
I am tortuned
I am molested
You are my love
You are my heart
You sicked me
You embrased me, but....
You killed me
You kissed me, but.....
You get posson to me
Love is busyet
Busyet
Busyet and busyet

ASBAB AL-NUZUL

Oleh: Syahriyah
(Mahasiswi IAIN Sunan Ampel Surabaya Fakultas Adab Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam)

A.    Manfaat-Manfaat Asbab Al-Nuzul
Ababun Nuzul ada kalanya berupa kisah tentang peristiwa yang terjadi, atau pertanyaan yang disampaikan kepada Rasulullah untuk mengetahui hukum suatu masalah, sehingga Qur’an pun turun sesudah terjadi peristiwa atau pertanyaan tersebut. Seorang guru sebenarnya tidak perlu membuat pengantar pelajaran dengan sesuatu yang baru dan dipilihnya, sebab bila ia menyampaikan sebab nuzul, maka kisahnya itu sudah cukup untuk membangkitkan perhatian, menarik minat, memusatkan potensi intelektual dan menyiapkan jiwa anak didik untuk menerima pelajaran, serta mendorong mereka untuk mendengarkan dan memperhatikannya.
Mereka segera dapat memahami pelajaran itu secara umum dengan mengetahui asbabun nuzul karena di dalamnya terdapat unsur-unsur kitab yang menarik. Dengan demikian, jiwa mereka terdorong mengetahui ayat apa yang diturunkan sesuai dengan sebab nuzul itu serta rahasia-rahasia perundangan dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, yang ke semuanya ini memberi petunjuk kepada manusia ke jalan kehidupan lurus, jalan menuju kekuatan, kemuliaan dan kebahagiaan.
Para pendidik dalam dunia pendidikan dan pengajaran di bangku-bangku sekolah ataupun pendidikan umum, dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan perlu memanfaatkan konteks asbabun nuzul untuk memberikan rangsangan kepada anak didik yang tengah belajar dan masyarakat umum yang dibimbing. Cara demikian merupakan cara paling bermanfaat dan efektif untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan tersebut dengan mempergunakan metode pemberian pengertian paling menarik dan bentuk paling tinggi.
Adapun faedah dari ilmu Asbabun Nuzul dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Mengetahui bentuk hikmah rahasia yang terkandung dalam hukum suatu ayat.
2.      Menentukan hukum (takhsis) dengan sebab menurut orang yang berpendapat bahwa suatu ibarat dinyatakan berdasarkan khususnya sebab.
3.      Menghindarkan prasangka bahwa arti “hars” dalam suatu ayat yang zahirnya hasr.
4.      Mengetahui orang atau kelompok yang menjadi kasus turunnya ayat serta memberikan ketegasan bila terdapat keragu-raguan.
5.      Pengetahuan terhadap sebab turunnya ayat dan menafsirkan dengan benar, menghindari pemakaian kata dan simbol yang (keluar) dari maknanya.
Al-Wahidin an-Naisaburi menulis:
Ia menyempurnakan apa yang seharusnya berhenti, serta peran yang utama yang di-tasarruf-kan, untuk mencegah penafsiran ayat dan maksud/tujuan jalannya, tanpa berhenti atas kisahnya, serta penjelasan turunnya. (Naisaburi, 1388: 4)
Abu Al-Fath al-Qusyairi berkata:
Penjelasan sebab-sebab turunnya ayat adalah metode yang ampuh untuk memahami makna-makna kitab Allah al-Aziz. (Zarkasyi, I,1400: 2)
Ibnu Taimiyah mengatakan:
Pengetahuan terhadap sebab turunnya ayat membantu pemahaman terhadap ayat, karena akan mengerti terhadap sebab. Oleh karenanya benar sekali perkataan fuqaha, bahwa apabila tidak diketahui apa yang dimaksudkan (diniyatkan) oleh yang bersumpah hendaknya dikembalikan kepada sebab sumpahnya dan ada yang membangkit serta pengaruh-pengaruhnya. (Taimiyah, 1391: 47)
Korelasi antara Ayat dengan Ayat dan Surah dengan Surah
Seperti halnya pengetahuan tentang asbabun nuzul yang mempunyai pengaruh dalam memahami makna dan menafsirkan ayat, maka pengetahuan tentang munasabah atau korelasi antara ayat dengan ayat atau surah dengan surah juga membantu dalam pentakwilan dan pemahaman ayat dengan baik dan cermat. Oleh sebab itu sebagian ulama mengkhususkan diri untuk menulis buku mengenai pembahasan ini.[1]
Munasabah (korelasi) dalam pengertian bahasa berarti kedekatan. Dikatakan, “si anu munasabah dengan si fulan” berarti ia mendekati dan menyerupai si fulan itu. Dan di antara pengertian ini ialah munasabah ‘illat hukum dalam bab kias, yakni sifat yang berdekatan dengan hukum.
Contoh tentang Manfaat Asbabun Nuzul
Ketika Marwan ibnul Hakam menemui kesulitan dalam memahami ayat:
لا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ. (ال عمران: ١٨٨)
Artinya: “Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksaan yang pedih.” (QS. Al-Imran: 188)
Beliau memerintah kepada pembantunya, “Pergilah menemui Ibnu Abbas dan katakan kepadanya, Bila orang yang telah merasa gembira dengan apa yang telah dikerjakan dan ingin dipuji terhadap perbuatan yang belum terbukti hasilnya akan disiksa, maka kamipun akan terkena siksa.” Ibnu Abbas menjelaskan kepadanya (pembantunya Marwan ibnu Hakam), bahwa ayat tersebut bukanlah bermakna demikian. Ayat tersebut turun sehubungan dengan Ahli Kitab (Yahudi). Ibnu Abbas menyebutkan ayat: “Dan ingatlah ketika Allah mengambil janji dari orang yang telah diberi Kitab.” (QS. Ali Imran: 187).
Tatkala ditanya oleh Nabi SAW. tentang suatu persoalan para Ahli Kitab tersebut menyembunyikan persoalan yang ditanyakan oleh Nabi telah terjawab. Setelah itu, mereka meminta pujian kepada Nabi dan mereka merasa gembira atas perbuatan mereka yaitu menyembunyikan permasalahan yang ditanyakan kepada mereka, maka turunlah ayat tersebut di atas.

B.     Macam-Macam Asbab Al-Nuzul
تَعَدُّدُالرِّوَايَاتِ فيِ سَبَبِ نَازِلٍ وَاحِدٍ مِنَ اْلقُرْاَنِ اَوْتَعَدُّدُ النَّازِلٍ وَالسَّبَبُ وَاحِدٌ.
(Bermacam-macam sebabnya, sedang ayat yang turun hanya satu, atau bermacam-macam ayat yang turun, sedang sebabnya hanya satu).
Dari segi jumlah sebab dan ayat yang turun, sabab al-Nuzul dapat dibagi kepada Ta’addud al-Asbab wa al-Nazil Wahid (sebab turunnya lebih dari satu dan ini persoalan yang terkandung dalam ayat atau kelompok ayat yang turun satu) dan Ta’uddud al-Nazil wa al-Sabab Wahid (ini persoalan yang terkandung dalam ayat atau sekelompok ayat yang turun lebih dari satu sedang sebab turunnya satu). Sebab turun ayat disebut Ta’addud bila ditemukan dua riwayat yang berbeda atau lebih tentang sebab turun suatu ayat atau sekelompok ayat tertentu. Sebaliknya, sebab turun itu disebut wahid atau tunggal bila riwayatnya hanya satu. Suatu ayat atau sekelompok ayat yang turun disebut Ta’addud Al-Nazil bila inti persoalan yang terkandung dalam ayat yang turun sehubungan dengan sebab tertentu lebih dari satu persoalan.
Jika ditemukan dua riwayat atau lebih tentang sebab turun ayat dan masing-masing menyebutkan suatu sebab yang jelas dan berbeda dari yang disebutkan lawannya, maka kedua riwayat ini diteliti dan dianalisis. Permasalahannya ada empat bentuk. Pertama salah satu dari keduanya sahih dan lainnya tidak. Kedua, keduanya sahih, akan tetapi salah satunya mempunyai penguat (murajjih) dan lainnya tidak. Ketiga, keduanya sahih dan keduanya sama-sama tidak mempunyai penguat (murajjih). Akan tetapi, keduanya dapat diambil sekaligus. Bentuk keempat, keduanya sahih, tidak mempunyai penguat (murajjih), dan tidak mungkin mengambil keduanya sekaligus.
Bentuk pertama diselesaikan dengan jalan memilih riwayat yang sahih dan menolak yang tidak sahih. Misalnya perbedaan yang terjadi antara riwayat Bukhari, Muslim, dan lainnya dari satu pihak dan riwayat At-Tabrani dan Ibnu Abi Syaibah di pihak lain. Bukhari, Muslim, dan lainnya meriwayatkan dari Jundab. Ia (Jundab) berkata: “Nabi SAW. kesakitan sehingga ia tidak bangun satu atau dua malam. Seorang perempuan datang kepadanya dan berkata: “Hai Muhammad, saya tidak melihat setanmu kecuali ia telah meninggalkanmu”, maka Allah menurunkan:
وَالضُّحَى. وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى. مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى. (الضح: 1-٣)
Al-Thabrani dan Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Hafsh bin Maisarah dari ibunya, dan ibunya (neneknya dari ibu) dan ibunya ini pembantu Rasul SAW: “Sesungguhnya seekor anak anjing memasuki rumah Nabi SAW. Anak anjing itu masuk ke bawah tempat tidur dan mati, maka selama empat hari Nabi SAW. tidak dituruni wahyu. Maka ia (Nabi) berkata: Hai Khaulah, apa yang telah terjadi di rumah Rasulullah? Jibril tidak datang kepadaku”. Saya berkata pada diri saya sendiri: “Sekiranyalah engkau persiapkan rumah ini dan engkau sapu, maka saya jangkaukan penyapu ke bawah tempa tidur itu, maka saya mengeluarkan anak anjing tersebut. Nabi SAW pun datang dalam keadaan jenggotnya gemetar.  Dan memang jika turun
(wahyu) kepadanya ia menjadi gemetar”, maka Allah menurunkan وَالضُّحَى  hingga firman-Nya: فَتَرْصَ 
Dalam hal demikian menurut Al-Zarqani, kita mendahulukan riwayat yang pertama dalam menerangkan sebab turunnya ayat tersebut karena kesahihan riwayatnya dan tidak riwayat yang kedua Sebab dalam sanad riwayat kedua terdapat periwayat yang tidak dikenal Ibnu Hajar berkata: “Kisah terlambatnya Jibril karena adanya anal anjing yang masuk itu. Akan tetapi, keadaannya menjadi sebab bag turunnya ayat aneh itu. Dalam sanadnya terdapat orang yang tak dikenal. Karena itu, yang diterima adalah yang ada di dalam kitab Sahih”. Bentuk kedua ialah keadaan dua riwayat itu sahih. Akan tetapi, salah satu di antaranya mempunyai penguat (murajjih) Penyelesaiannya ada dengan mengambil yang kuat rajihah. Penguat (murajjih) itu adakalanya salah satunya lebih sahih dari yang lainnya atau periwayat salah satu dari keduanya menyaksikan kisah itu berlangsung sedang periwayat lainnya tidak demikian. Misalnya, hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Ibnu Mas’ud. Ia (Ibnu Mas’ud) berkata: “Saya berjalan bersama. Nabi SAW. di Madinah dan ia (Nabi) bertongkatkan pelepah kurma. Ia melewati sekelompok orang Yahudi. Mereka berkata kepada sebagian yang lainnya: “Coba kamu tanya dia”, maka mereka berkata: “Ceritakan kepada kami tentang ruh”. Nabi terhenti sejenak dan kemudian ia mengangkatkan kepalanya. Saya pun mengerti bahwa ia dituruni wahyu hingga wahyu itu naik. Kemudian ia berkata:
قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبيِّ ْوَمَااُوْتِيْتُمْ مِنَ اْلعِلْمِ اِلاَّقَلِيْلاً.
Dalam hubungan ayat yang sama, At-Tirmizi meriwayatkan hadis yang disahihkannya dari Ibnu Abbas. Ia (Ibnu Abbas) berkata: “Orang-orang Quraisy berkata kepada orang-orang Yahudi, “Berikanlah kepada kami sesuatu yang akan kami pertanyakan kepada orang ini (Nabi)”. Mereka berkata “Tanyakanlah kepadanya tentang ruh”, mereka pun menanyakannya, maka Allah menurunkan:
وَيَسْئَلُوْ نَكَ عَنِ الرُّوْحِ. (الاية)
Menurut As-Suyuti dan A1-Zarqani, riwayat yang kedua mi menunjukkan bahwa ayat tersebut turun di Mekkah dan sebab turunnya adalah pertanyaan kaum Quraisy. Sedangkan riwayat yang pertama jelas menunjukkan turunnya di Madinah karena sebab turunnya adalah pertanyaan orang-orang Yahudi. Riwayat yang pertama ini lebih kuat dari yang kedua. Yang pertama adalah riwayat Al-Bukhari dan yang kedua riwayat At-Tirmizi. Telah menjadi ketentuan bahwa riwayat Al-Bukhari lebih sahih dari riwayat lainnya. Kemudian, periwayat pertama, Ibnu Mas’ud menyaksikan kisah turun ayat tersebut, sedangkan periwayat hadits kedua tidak demikian. Orang yang menyaksikan tentunya mempunyai kekuatan yang lebih dalam penerimaan dan penyampaian riwayat daripada orang yang tidak menyaksikannya. Karena itu, riwayat yang pertama diterima dan riwayat yang kedua ditalak.
Bentuk ketiga ialah kesahihan dua riwayat itu sama dan tidak ditemukan penguat (murajjih) bagi salah satu keduanya. Akan tetapi keduanya dapat dikompromikan. Kedua sebab itu benar terjadi dan ayat turun mengiringi peristiwa tersebut karena masa keduanya berhampiran. Penyelesaiannya adalah dengan menganggap terjadinya beberapa sebab bagi turunnya ayat tersebut. Ibnu Hajar pernah berkata: “Tidak ada halangan bagi terjadinya Ta‘addud Al-Asbab (sebab ganda). Misalnya, hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari jalan Ikrim dari Ibnu Abbas, bahwa Hilal bin Umayyah menuduh isterinya berbuat mesum (qazf) di sisi Nabi dengan Syarik bin Samha. Nabi berkata: “Bukti atau hukuman (had) atas pundakmu”. Ia berkata: “Hai Rasulullah, jika seseorang dari kami mendapati seorang laki-laki bersama isterinya, dia harus pergi mencari bukti?”. Menurut satu riwayat, ia berkata: “Demi Tuhan yang membangkitkanmu dengan kebenaran, sesungguhnya saya benar, dan sesungguhnya Allah akan menurunkan sesuatu (ayat) yang akan membebaskan pundak saya dari hukuman (had), maka Jibril pun turun dan menurunkan atas (Nabi):
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ. (النور: ٦)
Sementara itu, Al-Bukhari dan Muslim (lafal Al-Bukhari) meriwayatkan dari Sahl bin Sa’d, bahwa Uwaimir datang kepada Ashim bin Adiy yang adalah pemimpin bani Ajlan seraya berkata: “Bagaimana pendapat kamu tentang seseorang yang menemukan isterinya bersama laki-laki lain. Apakah ia bunuh laki-laki itu maka kamu pun membunuhnya, atau bagaimanakah ia bertindak? Tanyakanlah untuk saya hal yang demikian kepada Rasul SAW. Ashim pergi menanyakan kepada Rasul, tetapi Rasul tidak memberikan jawaban sehingga Uwaimir pergi menanyakannya langsung kepada Rasul. Rasul berkata: “Allah telah menurunkan Al-Qur’an tentang engkau dan temanmu (isterimu)”. Rasul memerintahkan keduanya melakukan Mula’anah sehingga Uwaimir melakukan Li’an terhadap istrinya.”
Kedua riwayat ini sahih dan tidak ada penguat (murajjih) bagi salah satu keduanya atas lainnya. Dalam pada itu, tidak terdapat kesulitan untuk menjadikan kedua-duanya sebagai sebab turun ayat-ayat tersebut karena waktu peristiwanya berhampiran. Hilal bin Umayyah dipandang sebagai penanya pertama dan Uwaimir penanya kedua sebelum ada jawaban Rasul. Pada mulanya Uwaimir menanyakannya melalui Ashim dan kemudian menanyakannya secara langsung.
Masalah ini juga dapat diselesaikan melalui jalan lain, yaitu dengan memahaminya dari riwayat yang kedua. Melalui riwayat yang kedua dapat dipahami bahwa ayat-ayat Mula’anah pada mulanya turun sehubungan dengan masalah Hilal. Kemudian, Uwaimir datang, maka Rasul menjawabnya dengan ayat-ayat yang telah turun pada masalah Hilal.
Bentuk keempat adalah keadaan dua riwayat itu sahih, tidak ada penguat (murajjih) bagi salah satu keduanya atas lainnya, dan tidak pula mungkin menjadikan keduanya sekaligus sebagai Asbab Al-Nuzul karena waktu peristiwanya jauh berbeda. Penyelesaian masalah ini adalah dengan menganggap berulang-ulangnya ayat itu turun sebanyak Asbab Al-Nuzulnya. Misalnya ialah hadits yang diriwayatkan Al-Baihaqi dan Al-Bazzar dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW. tegak dekat Hamzah ketika gugur menjadi syahid dan tubuhnya dicincang. Nabi berkata: “Sungguh saya akan cincang tujuh puluh orang dari mereka sebagai penggantimu”. Jibril pun turun, Nabi masih berdiri, dengan membawa tiga ayat dari akhir surat Al-Nahl:
وَاِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَا قِبُوْا بِمِثْلِ مَاعُوْقِبْتُمْ بِهِ... الى اخرسورة النحل
sampai akhir surat tersebut. Sementara itu, At-Tirmizi dan Al-Hakim meriwayatkan dari Ubaiy bin Ka’b. Ia (Ubaiy) berkata: “Tatkala pada perang Uhud jatuh (korban) dari kaum Ansar 64 orang dan dari kaum Muhajirin enam orang termasuk Hamzah, mereka teraniaya, maka kaum Ansar berkata: “Jika kita dapat mengalahkan mereka pada suatu hari seperti ini, kita akan melebihkan (jumlah korban) mereka nanti”. Pada ketika penaklukan Mekkah, Allah menurunkan ayat:
وَاِنْ عَاقَبْتُمْ
Riwayat pertama menunjukkan bahwa ayat tersebut turun pada perang Uhud dan riwayat kedua menunjukkan turunnya pada penaklukan Mekkah. Sedangkan jarak waktu antara dua peristiwa tersebut beberapa tahun. Karena itu, sulit diterima akal bahwa ayat itu turun satu kali mengiringi dua peristiwa itu sekaligus. Berdasarkan hal yang demikian, tidak ada jalan keluar selain dengan mengatakan turunnya berulang-ulang, sekali pada perang Uhud dan sekali lagi pada penaklukan Mekkah.
Mengenai surat Al-Nahl, sebagian ulama mengatakan bahwa semua ayat-ayat turun di Mekkah. Dengan menggabungkan pendapat terakhir ini dengan pendapat sebelumnya, berarti tiga ayat terakhir dari surat ini turun tiga kali yaitu, di Mekkah bersama ayat-ayat lainnya kemudian secara tersendiri pada perang Uhud dan pada penaklukan Mekkah. Pendapat lain mengatakan bahwa surat Al-Nahl turun di Mekkah selain tiga ayat terakhir. Berdasarkan pendapat ini maka tiga ayat terakhir ini turun hanya dua kali, yaitu pada perang Uhud dan pada penaklukan Mekkah.
Inilah empat bentuk permasalahan dan pemecahannya ketika terjadi Ta‘addud Asbab wa Al-Nazil Wahid, yaitu riwayat tentang sebab turun ayat lebih dari satu riwayat sedang ayat yang turun satu atau beberapa ayat yang turun serempak. Adapun jika sebaliknya, yaitu Ta‘addud Al-Nazil wa Al-Sabab Wahid (ayat yang turun berbeda dan sebabnya tunggal atau sama), maka hal yang demikian tidak menjadi masalah. Hal demikian tidak bertentangan dengan hikmah untuk meyakinkan manusia dan menjelaskan kebenaran. Bahkan, cara yang demikian bisa lebih efektif. Sebagai contoh satu sebab bagi turunnya dua ayat yang berbeda pesan yang dikandungnya ialah Sabab Al-Nuzul yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Al-Thaban, Al-Thabrani, dan Ibnu Mardawaih dari Ibnu Abbas. Ia (Ibnu Abbas) berkata: “Rasul SAW duduk di bawah naungan pohon seraya berkata: “Bahwasanya akan datang kepada kamu seorang manusia yang memandang kamu dengan dua mata setan. Jika ia datang maka janganlah kamu tegur dia”. Tak berapa lama muncullah seseorang yang biru kedua matanya Rasul SAW. memanggilnya seraya berkata: “Mengapa engkau bersama teman-temanmu memaki saya? Laki-laki itu pergi dan datang membawa teman-temannya. Mereka bersumpah dengan Allah bahwa mereka tidak berkata apa-apa sehingga Rasul membiarkan mereka, maka Allah menurunkan ayat:
يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلامِهِمْ وَهَمُّوا بِمَا لَمْ يَنَالُوا وَمَا نَقَمُوا إِلا أَنْ أَغْنَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ فِي الأرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ. (التوبة: ٧٤)
Artinya: “Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.” (QS. At-Taubah: 74)
Sementara itu, Al-Hakim dan Ahmad meriwayatkan hadits yang lafalnya sama dengan keduanya berkata: “Maka Allah menurunkan ayat:
يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيَحْلِفُونَ لَهُ كَمَا يَحْلِفُونَ لَكُمْ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ عَلَى شَيْءٍ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُونَ. اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ. (المجادلة: 18-١٩)
Artinya: “(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan musyrikin) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh suatu (manfaat). ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta. Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka Itulah golongan syaitan. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya golongan syaitan Itulah golongan yang merugi.” (QS. Al-Mujadilah: 18-19)[2]


Kesimpulan
Dari penjabaran pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, di antaranya:
1.      Faedah-faedah Asbab Al-Nuzul, meliputi:
a.       Mengetahui bentuk hikmah rahasia yang terkandung dalam hukum suatu ayat.
b.      Menentukan hukum (takhsis) dengan sebab menurut orang yang berpendapat bahwa suatu ibarat dinyatakan berdasarkan khususnya sebab.
c.       Menghindarkan prasangka bahwa arti “hars” dalam suatu ayat yang zahirnya hasr.
d.      Mengetahui orang atau kelompok yang menjadi kasus turunnya ayat serta memberikan ketegasan bila terdapat keragu-raguan.
e.       Dan lain-lain yang ada hubungannya dengan faedah ilmu Asbab Nuzul.
2.      Adapun macam-macam Asbab Al-Nuzul, yaitu:
a.       Ta’addud Al-Asbab wa Al-Nuzul Wahid (Bermacam-macam sebabnya, sedang ayat yang turun hanya satu, atau bermacam-macam ayat yang turun, sedang sebabnya hanya satu).
b.      Ta’addud Al-Nazil wa Al-Sabab Wahid (Persoalan yang terkandung dalam ayat atau sekelompok ayat yang turun lebih dari satu sedang sebab turunnya satu).

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrohman Ar-Rumi, Fahid, Dr. 1996. Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Titipan Illahi Press.
Al-Qattan, Manna’ Khalil. 2007. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa.
Ash-Shaabuuniy, Muhammad Ali, Prof. Dr. 1998. Studi Ilmu Al-Qur’an. Bandung: Pustaka Setia.
Halimud, SH. 1993. Man’atul Qathan: Pembahasan Ilmu Al-Qur’an. Jakarta: Rineka Cipta.
Shadali, Ahmad, Drs. dan Rofi'i, Ahmad, Drs. 2000. Ulumul Qur’an. Bandung: Pustaka Setia.
Zahdi, Masjefuk, Drs. 1997. Pengantar Ulumul Qur’an. Surabaya: CV. Karya Aditama.



iii
 
 


[1] Diantaranya Abu Ja’far Ahmad bin Ibrahim ibnuz Zubair al-Andalusi an-Nahwi al-Hafiz yang wafat pada 807 H. Kitabnya berjudul al-Burhan fi Manasabah Tartibi Sawaril Qur’an. Dan Syaikh Burhanuddin al-Baqa'i mengarang kitab yang diberi judul Nuzumud Durar fi Tanasubil Ayat was-Suwar. Naskah kitab ini terdapat di Darul Kutub al-Misriyyah dalam bentuk manuskrip. Mengenai pembahasan ini lebih lanjut, lihat al-Burhan oleh az-Zarkasyi, jilid 1, hal. 35.
[2] Drs. H. Ramli Abdul Wahid, MA., Ulumul Qur’an, (Jakarta: Rajawali, 1994), hal. 46.

ASAL USUSL MANUSIA DAN PEMBENTUKAN RAS

Oleh: Abdurrahman
(Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya Fakultas Adab Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam)
A.    Pendahuluan
Dipandang dari sudut biologis manusia hanya merupakan suatu macam makhluk di antara lebih dari sejuta macam makhluk lain yang ada di dunia. Pada pertengahan abad ke-19 para ahli bologi, dan yang terpenting adalah C. Darwin, megumumkan teori mereka tentang proses evolusi biologi. Menurut teori ini, bentuk-bentuk hidup tertua di muka bumi terdiri dari satu sel yang sangat sederhana seperti misalnya protozoa. Dalam jangka waktu beratus-ratus juta tahun lamanya timbul dan berkembang bentuk-bentuk hidup berupa makhluk-makhluk dengan organisasi yang makn lama makin kompleks, dan pada kala-kala terakhir ini telah berkembang atau berevolusi makhluk seperti kera dan manusia.
Nampaknya, australophitecus merupakan leluhur jenis homo sekitar 3 juta tahun lalu di afrika, dimana Homo Erectus sebelumnya berkembang. Satu cabang humanoiid mulai sekitar 250.000 tahun yang lalu dan tetap di Afrika. Cabang lainnya berkembang 60.000 atau 70.000 tahun yang lalu. Beberapa anggotanya tinggal di Afrika dan lainya menyebar ke seluruh dunia.
Pernyataan Darwinis mendukung bahwa manusia moderen berevolusi dari sejenis makhluk yang mirip kera. Selama proses evolusi tanpa bukti ini, yang diduga telah dimulai dari 5 atau 6 juta tahun yang lalu, dinyatakan bahwa terdapat beberapa bentuk peralihan antara manusia moderen dan nenek moyangnya. Menurut skenario ini, ditetapkanlah empat kelompok dasar yaitu: Australophithecines (berbagai bentuk yang termasuk dalam genus Australophitecus), Homo Habilis, Homo Erectus, dan Homo sapiens.
dalam penergtian biologis yang sebenarnya. Dengan singkat ras dapat didefinisikan sebagai populasi suatu jenis yang berbeda dalam frekuensi keadaan suatu atau beberapa gen yang berbeda dari poulasi lain dari jenis yang sama. Asumsi tentang adanya perbedaan perilaku diantara ras manusia masalah untuk masyarakat jaman sekarang, yang tidak diabaikan begitu saja.
B.     Asal Usul Manusia Menurut Darwin Dalam Teori Evolusi
Manusia merupakan suatu jenis makhluk yang telah bercabang melalui proses evolusi dari semacam makhluk primat. Soal asal mula dan proses evolusi manusia, dipelajari dan diteliti secara khusus oleh sub-ilmu natropologi yaitu paleoantropologi, dengan menggunakan  bekas-bekas tubuh manusia yang berupa fosil yang terkandung dalam lapisan-lapisan bumi sebagai baha penelitian. Namun, karena manusia merupakan suatu cabang yang palig muda ari makhluk primat, maka soal asal mula dan proses evolusinyan tidak dapat dilepaskan seluruhnya oleh proses percabangan mahluk primat. Walaupun masih terdapat perbadaan pendapat di anara para ahli paleoantropologi mengenai berbagai aspek dari proses percabangan itu, tetapi ahir-ahir ini mereka telah sepaham mengenai garis besar proses tersebut. Selain menganalisa data mengenai fosil kera dan manusia yang tersimpan dalam lapisan bumi, mereka juga menggunakan data ilmu-ilmu lain seperti: paleobgeografi[1] dan paleogeologi[2], serta metode analisa potassium argon[3] dari ilmu geologi.
1.      Evolusi Suku Primat
Menurut penelitian paling ahir, percabangan dari suku primat mempunyai empat cabang, di antaranya adalah:
a.       Mahluk mamalia
Binatang ini muncul kira-kira 70.000.000 tahun yang lalu, di dalm suatu zaman yang menurut ahli geologi disebut Kala Paleosen Tua.[4] Dalam masa yang agak lama mahluk primat tadi bercabang lebih lanjut ke dalam berbagai sub suku dan infra-suku husus dan di antranya telah terjadi percabangan antara keluarga kera-kera pongid atau kera-kera besar dari keluarga hominid yang mempunyai sabagai angota mahluk nenek moyang manusia.
b.      Kera pongopygmeus atau orangutan
Cabang ini muncul pada permulaan Kala Miosen kira-kira 20.000.000 tahun lalu. Daerah asal orangutan ini adalah Afrika Timur yang ketika itu masih menjadi satu dengan daerah Arab. Vegitasi di Afrika Timur pada waktu itu belum berupa sabana dengan gerombolan-gerombolan hutan yang jarang seperti halnya sekarang, tetapi masih tertutup hutan rimba. Orangutan memang merupakan mahluk kera yang tinggal di pucuk-pucuk pohon basar dan tinggi, dan hidup dari buah-buahan besar, bebas dari gangguan mahluk hutan rimba lainnya. Oragutan membiak dan menyebar melalui pucuk-pucuk pohon-pohon besar di daerah hutan rimba di Asia Barat Daya, Asia Selatan.kira-kira pada bagian ahir Kala Miosen terjadi beberapa perubahan basar pada kulit bumi dan pada lingkungan alamnya, benua Afrika membelah dari Asia, dan dari proses tersebut terjadilah Laut Merah dan belahan bumi beupa lembah yang mendalam, bernama Great Rift Valley, yang merupakan pemisah alam secaa ekologi yang membujur dari utara ke selatan antara Afrika Barat dan Tengah dengan Afrika Timur. Proses perubahan besar lainya adalah menyempitnya daerah hutan rimba di Afrika yang menyebabkan lingkungan lam Afrika Timur menjadi sabana, terjadinya gurun di daerah Arab, serta berkurangnya daerah hutan rimba di India. Orangutan tadi rupanya tidajk dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan besar dalam lingkungan tadi, lalu menghilang dari Afrika, Asia Barat Daya dan Asia Selatan, tetapi dapat bertahan di Asia Tenggara di mana hutan rimba lebat masih ada. Sampai sekarang sisa-sisanya yang terahir masih hidup di hutan rimba di Kalimantan Barat dan Tengah.
c.       Nenek moyang manusia
Percabangan ini terjadi kira-kira terjadi 10.000.000 tahun yang lalu pada bagian terahir dari Kala Miosen. Fosil-fosil mahluk ini menunjukan sifat yang lai daripada ynag lain, yaitu ukuran badan raksasa yang jauh lebih besar dari kera Gorilla yang hidup sekarang. Fosil-fosil itu ditemukan di bukit Siwalik di kai Himalaya, dekat Simla (India Utara), di sebuah kedai Cina di Hongkong, dan di lembah Bengawan Solo di Jawa. Oleh para ahli disebut gigantropus (Kera-Manusia Raksasa). Para ahli memperkirakan bahwa Kera Manusia raksasa ini juga hidup dalam kelompok-kelompok seperti halnya jenis-jenis kera besar lainya, dan dengan demikian dapat bertahan hidup, membiak dan juga menyebar dari Afrika ke Asia selatan dan Tenggara. Namun, karena perubahan  yang terjadi pada ahir kala Miosen, maka ahirnya kandas disana karena sebab-sebab yang belum diketahui.
d.      Kera pongid yaitu Gorilla dan Chimpanze
Percabangan ini terjadi kira-kira 12.000.000 tahun yang lalu pada ahir kala Miosen. Kedua mahluk kera dari Afrika ini dapat menyesuaikan diri dengan berevolusi mengembangkan organisme yang hidup di pohon maupun di darat. Di Afrika Tengah berlangsung evolusi organisme dari kera Gorilla, sedangkan di daerah hutan Afrika Barat berlangsung evolusi organisme dari Chimpanzee. Proses percabangan ini yang kemudian ileh para ahli antropologi akan berevolusi menjadi manusia.
2.      Mahluk primat sebagai pendahulu manusia
Kira-kira seabad yang lalu para ahli biologi dan paleoantropologi masih mengira bahwa soal siapakah nenek moyang manusia itu dapat dipecahkan dengan menemukan sejenis mahluk yang telah kandas, yang merupakan penfhubung antara kera dan manusia dalam silsilah hidup. Dengan demikian usaha terpenting dari para ahli tersebut adalah mencari mahluk penghubung yang hilang (missing link) dalam silsilah perkembangan alam mahluk di muka bumi.
Sekarang, dengan kemajuan-kemajuan di bidang ilmu paleoantropologi dan geologi, konsepsi para ahli mengenai  missing link itu sudah berubah. Mahluk itu sudah tidak lagi dipandang sebagai suatu mahluk yang berada di antara kera dan manusia, tetapi sebagai seekor mahluk pendahuluan atau induk-induk yang mendahului baik kera-kera besar (pongid) maupun manusia, yang keduanya hanya merupakan spesialisasi khusus dari mahluk induk tadi. Karena proses percabangan antara berbagai jenis kera besar dengan manusia itu tidak hanya terjadi satu kali melainkan beberapa kali dan beberapa tempat, maka dengan demikian sebenarnya ada lebih dari satu mahluk induk. Seperti pada bagan berikut:
(konsepsi lama mengenai missing link)      (konsepsi baru mengenai missing link)
Kera                                                         Mahluk Induk

Missing link                                                                 mahluk induk
 


   Manusia            Kera-Kera Besar      Kera-Kera Besa                  Manusia

3.      Evolusi Manusia
Bumi Indonesia telah banyak memberi sumbangan kepada dunia ilmu pengetahuan untuk memecahkan asal mula manusia, karena di dala kandungan bumi Indonesia-lah ditemukan bekas-bekas manusia tertua. Karena manusia sangat erat kaitannya dengan kera besar kontemporer, maka sring dianggap bahwa manusia berasal dari kera besar itu. Anggapan ini tidak tepat. Dalam kenyataanya, baik manuisa maupun kera kontemporar berkembang dari nenek moyang yang sama. Kera memisahkan dari nenek moyang ini dan berkembang dengan garisnya sendiri, sementara manusia juga memisahkan diri dan mengembangkan diri dengan garis yang berbeda.
  1. Australopithecines
    Meski banyak rinciannya yang masih belum diketahui, garis besar proses evolusi manusia sudah sangat dikenal sekarang. Pada umumnya, para mahasiswa yang mempelajari evolusi manusia setuju bahwa homid yang pertama adalah mahluk yang termasuk kedalam genus Australopithecus. Mahluk-mahluk yang membentuk genus ini secara kolektif disebut Australopithecines. Bukti fosil pertama dari Australopithecines adalah sebuah tengkorak anak-anak yang ditemukan oleh Raymond Dart di Taung Afrika selatan, pada tahun 1924. sejak saat itu, banyak bukti fosil Australopithecines lainnya ditemukan. Fosil-fosil Australopithecines yang telah ditemukan sampai saat ini diperkirakan berumur tiga atau empat juta tahun, dan satu varietas dari tersebut bertahan hidup dalam rentang waktu empat sampai satu juta tahun yang lalu. Mahluk-mahluk ini biasanya lebih sering disebut dengan mahluk kera, ketimbang mahluk manusia yang sebenarnya. Istilah yang terahir ini dipakai untuk anggota genus homo. Namun, Australopithecines secara definitif lebih menyerupai manusia daripada menyerupai kera.
Dalah hal ukuran, Australopithecines sangat kecil dibandingkan dengan manusia modern, tinggi badan dalam keadaan berdiri tidak lebih dari empat atau lima kaki, berat rata-rata berangkali tidak lebih dari 50 pound. Mereka memilii tubuh yang hampir sudah berdiri tegak dan berjalan dengan dua kaki (bipedial). Kemampuan ini jelas memisahkan mereka dengan kera yang memiliki postur tubuh mebungkuk dan berjalan dengan empat kaki (quadrupedal). Cara berjalan tegak dan berjalan dengan dua kaki pada Australopithecines ini adalah ciri manusia yang membedakannya dengan mahluk lain dan dapat dijakikan bukti yang kuat untuk menganggapnya sebagai hominid.
  1. Neandertals dan manusia modern
Tahap penting lainnya dalam evolusi manusia diwakili dengan Neandertals, hominid ini mewakili satu bentuk awal dari genus dan species homo sapiens, tetapi mereka ditempatkan dalam sub-species mereka sendiri, Neandertalensis. Diperkirakan mereka berkembang dari Homo Erectus sekitar 110.000 tahun yang lalu dan bertahan hidup sampai munculnya manusia modern sekitar 35.000 tahun yang lalu.
Dengan munculnya Neandertals evolusi manusia semakin lengkap. Neandertals sudah memiliki kapasitas tengkorak  rata-rata 1.350 cm2, mendekati kapasitas menusia modern. Dengan demikian, ada alasan kuat untuk mempercayai bahwa mereka telah mencapai tingkat intelektual yang sejajar dengan kapasitas intelektual manusia sekarang. Neandertals berbeda dengan kita terutama dalam struktur tengkorak dan kerangka bawah kepalanya. Mereka adalah hominid yang kasar, dengan wajah lebar dan alis kening besar. Tulangg kerangka bawah kepalanya juga kasar. Pada umunya kekasaran ini dipandang sebagai adaptasi terhadap iklim yang sangat dingin ditempat mereka hidup. Namun, disamping kekasaran struktur fisik yang mencolok ini, dalam banyak hal mereka sudah berstatus manusia modern.
Pada tahun 35.000 yang lalu, mahluk manusia yang betul-betul modern muncul di muak bumi, Neandertals segera lenyap di muka bumi. Perubahan pokok biologis yang menandai transisi menjadi homo sapiens meliputi perubahan dalam kekasaran fisik. Kekasaran yang merupakan ciri Neandertals digantikan dengan anatomi manusia modern. Perubahan penting lainnya terletak pada bidang kebudayaan. Sejak saat itu manusia adalah pemburu dan peramu canggih yang telah melengkapi pengembangan kultural bernialai yang memungkinkan mereka beradaptasi dengan berbagai lingkungan. Perubahan penting yang terjadi dalam kenyataan hidup manusia sejak saat itu hingga kini adalh perubahan kebudayaan.
  1. Perkembangan penting dalam evolusi manusia
Perkembangan krusial dalam evolusi manusia adalah perubahan ke postur tubuh yang berdiri tegak dan berjalan dengan dua kaki. Dan memang, inilah krakteristik utama yang kita asosiasikan dengan mahluk manusia. Perkembangan ini sangat penting karena krakteristik membebaskan tangan yang sebelumnya dipakai untuk berjalan. Tangan, setelah bebas dapat digunakan untuk keperluan lain, dan yang terpenting diantaranya adalah penggunaaan peralatan.
Keuntungan terbesar yang diberikan peralatan adalah karena peralatan memungkinkan eksploitasi lingkungan yang sangat menguntungkan. Munculnya penggunaan alat di kalangan manusia akhirnya memungkinkan mereka mengembangkan teknologi yang kompleks, yang pada gilirannya memungkinkan mereka mengembangkan kebudayaan. Tetapi faktor lain juga berpengaruh dalam perkembangan kebudayaan. Yang terpenting diantaranya ialah penimgkatan bertahap dalam ukuran dan kompleksitas otak. Peningkatan ini memberikan kemampuan belajar yang luar biasa kepada manusia. Manusia mulai memiliki fleksibelitas yang luar biasa dalam hal kemampuan mereka beradaptasi dengan alam melalui berbagai cara yang lebih dari sekedar cara yang diwariskan secara genetis dan ketika manusia melakukannya, mereka mulai berhasil hidup  di lingkungan yang lebih luas dan beragam.
C.     Pembentukan ras
Para ahli antropologi dahulu berusaha meneliti sifat politipis jenis manusia dengan secara sistematis mengklasifikasikan homo sapiens menjadi subjenis atau ras, atau dasar lokasi geografi dan ciri-cirinya yang fenotipis (fisik) seperto warna kulit, besarnya tubuh, bentuk kepala dan lebatnya rambut. Kalsifikasi seperti ini terus menghadapi tantangan karena adanya individu yang tidak cocok dengan klasifikasi itu, seperti orang Afrika yang berkulit putih atau orang Caucasoid yang berkulit gelap.
1.      Ras sebagai konsep biologis
Untuk memahami mengapa pendekatan rasional terhadap variasi umat manusia sangat sulit, pertamatama kita memahami konsep ras dalam penergtian biologis yang sebenarnya. Dengan singkat ras dapat didefinisikan sebagai populasi suatu jenis yang berbeda dalam frekuensi keadaan suatu atau beberapa gen yang berbeda dari poulasi lain dari jenis yang sama. Meskipun definisi ini tampak sederhana dan jelas, tetapi ada tiga hal yang harus diperhatikan di sini.  Yaitu:
a)  Definisi itu tidak pasti. Tidak ada kesepakatan mengenai berapa banyak perbedaan genetis yang diperlukan untuk membentuk sebuah ras.
b)  Tidak berarti sebuah ras secara eksklusif mengandung varian yang has dari sebuah atau beberapa gen.
c)  Individu-individu yang satu belum tentu bisa dibedakan dengan individu yang lain.
2.      Konsep ras manusia
Sebagai alat memahami umat manusia, konsep ras biologis mengandung sejumlah kelemahan serius. Yang ,mana ketegori itu tidak pasti, sehingga sulit mencapai kesepakatan tentang kalsifikasi tertentu. Misalnya, kalau peneliti yang satu memberi tekanan pada warna kulit, sedangkan yang lainnya memberi tekanan pada pada perbedaan kelompok darah, maka tidak dapat diharapkan mereka akan mengklarisifikasikan manusia dengan cara yang sama. Barangkali, andaikata jenis manusia dibagi dalam populasi pembiakan yang relatif terpisah-pisah, hal itu tidak akan menjadi masalah meskipun hal itu masih terbuka untuk diperdebatkan.
3.      Ras dan perilaku
Asumsi tentang adanya perbedaan perilaku diantara ras manusia masalah untuk masyarakat jaman sekarang, yang tidak diabaikan begitu saja. Sepanjang sejarah, ras-ras tertentu dianggap memiliki ciri-ciri tertentu pula. Karekteristik itu mendapat nama-nama yang berbeda.
4.      Ras dan intelejensi
Salah satu pernyataan yang sering dikemukakan oleh mereka yang tidak bisa melihat kepincangan-kepincangan konsep ras ialah ada atau tidak suatu ras yang memiliki yang secara inheren memiliki intelejensi yang lebih tinggi daripada yang lain. Tes-tes yang diadakan oleh orang-orang kulit putih  dan hitam menunjukan bahwa orang kulit putih mendapat nilai yang lebih tinggi.

D.    kesimpulan
dalam skala kehidupan, manusia termasuk ke dalam ordo taksonomi yang dikenal dengan primata. Anggota lain dari ordo ini adalah anggota keluarga cebidae (kera dunia baru) dan keluaga cercopithecidae (kera dunia lama), primata yang agak jauh hubungannya dengan manusia. Yang juga termasuk anggota primata ini adalah hylobatidae (kera besar: chimpanse, gorilla dan orangutan). Dengan primata-primata ini , terutama kera besar, manusia mempunyai hubungan yang sangat dekat. Namun, manusia termasuk dalam ordonya sendiri dalam ordo primata yaitu hominidae. Lebih dari itu, semua mahluk manusia kontemporer adalah referensentatif dari hanya satu genus dab species, homo sapiens.
Karena manusia sangat dekat hubungannya dengan kera besar kontemporer, maka sering dianngap bahwa manusia berasal dari kera besar itu. Anggapan ini tidak tepat. Dalam kenyataannya, baik manusia maupun kera kontemporer berkembang dari nenek moyang yang sama. Kera memisahkan diri dari nenek moyangnya dan berkembang dengan garisnya sendiri, sedangkan manusia juga memisahkan diri dari nenek moyangnya danjuga berkembang sesuai dengan garisnya sendiri.
Para ahli antropologi dahulu berusaha meneliti sifat politipis jenis manusia dengan secara sistematis mengklasifikasikan homo sapiens menjadi subjenis atau ras, atau dasar lokasi geografi dan ciri-cirinya yang fenotipis (fisik) seperto warna kulit, besarnya tubuh, bentuk kepala dan lebatnya rambut. Kalsifikasi seperti ini terus menghadapi tantangan karena adanya individu yang tidak cocok dengan klasifikasi itu, seperti orang Afrika yang berkulit putih atau orang Caucasoid yang berkulit gelap.

            dalam penergtian biologis yang sebenarnya. Dengan singkat ras dapat didefinisikan sebagai populasi suatu jenis yang berbeda dalam frekuensi keadaan suatu atau beberapa gen yang berbeda dari poulasi lain dari jenis yang sama. Asumsi tentang adanya perbedaan perilaku diantara ras manusia masalah untuk masyarakat jaman sekarang, yang tidak diabaikan begitu saja.

BUKU RUJUKAN

Haviland, William A. 2008, Antropology terjemah R.G. Sukadijo dengan judul Sosiologi Jakarta: Erlangga.
Koenjaraningrat. 2002, Pengantar Ilmu Antrpologi, Jakarta: Rineka Cipta.
Sanderson, Stephen K. 2003. Macrososiology terjemah Farid Wajidi dan S. Menno, dengan judul Makro Sosiologi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.



[1] Ilmu bumi zaman purba.
[2] Ilmu tentang lingkungan alam pada zaman purba.
[3] Metode analisa terbaru mengenai umur dari lapisan-lapisan bumi.
[4] Kala paleosen adalah salah satu masa dalam perkembangan kulit bumi. Para ahli geologi telah membagi kulit bumi menurut umurnya , dari yang palling tua hingga yang paling muda kedalam masa-masa

PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, KAJIAN DAN HUBUNGAN ATROPOLOGI DENGAN ILMU SOSIAL YANG LAIN


Oleh: Moh. Ilham
 (Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabya Fakultas Adab Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam)
A.    Pengertian Antropologi
Antropologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik , adat istiadat, dan budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Terbentuknya ilmu Antropologi dengan melalui beberapa fase. Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, Antropologi mirip seperti sosiologi tetapi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.
Antropologi berasal dari bahasa Yunani terdiri dari dua kata yaitu Anthropos yang berarti “ manusia “ dan logos yang berarti “ ilmu “, Anntropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial, para ahli mendefinisikan Antropologi sebagai berikut :
William A.Haviland
Antropologi adalah studi tntang umat manusia, berusaha menyusun pendeskripsian yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian lengkap tentang keanekaragaman manusia.
David Hunter
Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
Koentjaraningrat
Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya, dengan mempelajari aneka warna , bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.

Dari definisi tersebut dapat disusun pengertian sederhana Antropologi yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan ( cara-cara berperilaku, tradisi, nilai-nilai ) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda[1].
B.     Kajian Antropologi
Antropologi adalah suatu studi ilmu yang mempelajari tentang manusia baik dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman dan lain sebagainya, objek kajian Antropologi adalah manusia didalam masyarakat suku bangsa kebudayaan dan perilakunya. Ilmu pengetahuan antropologi memiliki tujuan untuk mempelajari manusia dalam masyarakat suku bangsa, berperilaku dan berkebudayaan untuk membangun masyarakat itu sendiri.
Ilmu antropologi juga mempunyai beberapa kategori, yaitu :
1.      Antropologi fisik
Yaitu arti khusus dari ilmu antropologi yang mencoba mencapai suatu pengertian tentang sejarah terjadinya aneka warna makhluk manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya, yang memakai sebagai bahan penelitian ciri-ciri tubuhnya, baik yang lahir ( fenotip ) seperti warna kulit, bentuk rambut, indeks tengkorak, bentuk muka, warna mata, maupun dalam ( genotip ) seperti golongan darah.
Antropologi fisik berdasarkan ciri-ciri diatas dapat dikembangkan lagi menjadi dua, yaitu :
a.       Paleoantropologi, yaitu ilmu bagian yang meneliti tentang asal-usul atau proses terjadinya evolusi makhluk manusia dengan mempergunakan sisa-sisa tubuh yang telah membatu atau fosil-fosil manusia dari zaman dahulu yang tersimpan didalam lapisan-lapisan bumi yang harus didapat para peneliti dengan berbagai metode sebagai bahan penelitian.
b.      Somatologi, yaitu ilmu yang membicarakan variasi diantara makhluk hidup/ keberagaman ras manusia dengan mengamati ciri-ciri fisik.

2.      Antropologi Budaya
Karena tidak ada kebudayaan tanpa adanya manusia, maka pekerjaan ahli antropologi fisik merupakan kerangka yang diperlukan oleh ahli antropologi budaya. Antropologi budaya, dibedakan lagi menjadi 5, yaitu :
a.       Etholiguistik yaitu yang mempelajari tentang bahasa-bahasanya
b.      Prehistori yaitu mempelajari tentang sejarah perkembangandan penyebaran semua kebudayaan manusia mengenal tulisan.
c.       Etnolog yaitu Ilmu yang mempelajari kehidupan suku-suku bangsa misalnya adat, agama, dan kebudayaan masa kini.
d.      Antropologi spesifikasi yaitu ilmu antropologi yang melakukan perkembangan dari ilmu antropologi murni.
e.       Antropologi terapan yaitu berusaha mengaplikasikan temuan-temuan antropologi dalam pemecahan masalah yang dihadapi manusia, misalkan membuat bahan makanan yang mempunyai nilai jual yang tinggi[2].
C.    Hubungan antara Antropologi dan Ilmu-ilmu Lain
Hubungan antara Antropologi dengan ilmu geologi. Bantuan ilmu geologi yang mempelajari ciri-ciri lapisan bumi serta perubahan-perubahannya, terutama dibutuhkan oleh sub ilmu paleoantropologi dan prehistori untuk menetapkan umur-umur relatif dari fosil-fosil makhluk primat dan fosil-fosil manusia zaman dahulu, serta artefak-artefak dan bekas-bekas kebudayaan yang digali dari dalam lapisan bumi.
Hubungan antara Antropologi dengan Anatomi. Seorang sarjana Antropologi fisik sangat perlu akan ilmu Anatomi, karena ciri-ciri dari berbagai bagian tengkorak dan ciri-ciri dari bagian tubuh manusia pada umumnya, menjadi objek penelitian yang terpenting untuk mendapat pengertian tentang soal asal mula dan penyebaran manusia serta hubungan antara ras-ras didunia.
Hubungan antara Antropologi dengan Ilmu Paleontologi. Bantuan dari  paleontologi sebagai ilmu yang meneliti fosil makhluk-makhluk dari dahulu kala untuk membuat suatu rekonstruksi tentang proses evolusi bentuk-bentuk makhluk dari dahulu kala hingga sekarang, tentu juga sangat diperlukan ilmu paleoantropologi dan prehistori.
Hubungan antara Antropologi dengan Ilmu Psikiatri. Hubungan antara ilmu psikiatri dengan ilmu antropologi telah tersebut diatas, dan merupakan suatu perluasan dari hubungan antara antropologi dan ilmu psikologi, yang kemudian mendapat fungsi yang praktis
Ilmu Antropologi dengan ilmu sejarah. Sejarah menyumbang bahan yang berupa fakta dan data     masa lampau yang dapat dijadikan sebagai pola ulang dalam menentukan masa depan. Sejarah dan Antropologi merupakan satu kesatuan yang mana antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dengan kebudayaan dan sejarah masuk didalamnya[3].

KESIMPULAN

Antropologi adalah studi tentang umat manusia dengan menggunakan pendekatan ilmiah, antropologi berusaha menyusun pendeskripsian tentang makhluk hidup dan perilakunya dan untuk mendapat pengertian yang tidak berprasangka tentang keanekaragaman manusia.
Bidang besar dalam antropologi yaitu Antropologi fisik dan Antropologi budaya. Antropologi fisik memusatkan perhatiaanya pada manusia sebagai orgasme biologis, sedangkan penekanan utama Antropologi fisik adalah melacak evolusi perkembangan makhluk manusia dan mempelajari variasi-variasi biologis dalam jenis ( spesies ) manusia. Sedangkan Antropologi Budaya mempelajari manusia melalui kebudayaanya.
Bagian yang dipelajari Antropologi terus-menerus berubah karena terjadi penemuan-penemuan baru dan kebudayaan itu sendiri selalu dalam keadaan berubah. Perubahan peranan seks dan sikap baru terhadap perkawinan dalam keluarga adalah contoh-contoh perubahan yang dapat dengan mudah kata dalam kebudayaan itu sendiri. Dengan terbentuknya bidang-bidang baru untuk penelitian Antropologi, dan dengan instrumen serta metode studinya yang lebih efisien, dan karena para ahli Antropologi tetap mempertahankan keterlibatannya yang sudah lama dengan sifat kemanusiaan orang lain, maka Antropologi semakin berhasil menjadi pengetahuan tentang manusia yang benar-benar manusiawi.


DAFTAR PUSTAKA


R.S.Soekadijo..Antropologi.Jakarta : Erlangga.
Sugeng puji laksono..Petualangan Sejarah. Malang : Penerbitan UMM.
Kuntraraningrat..Pengantar ilmu antropologi. Jakarta : PT. Rineka cipta.



















DAFTAR ISI

DAFTAR ISI......................................................................................................       i
PENDAHULUAN.............................................................................................      1
A.    Latar Belakang..................................................................................      1
B.     Rumusan Masalah.............................................................................      1
C.     Tujuan ..............................................................................................      1
PEMBAHASAN................................................................................................      2
A.    Pengertian Antropologi.....................................................................      2
B.     Kajian Antropologi...........................................................................      3
C.     Hubungan Ilmu antropologi dengan ilmu-ilmu sosial yang lain........      4
KESIMPULAN..................................................................................................      6
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................      7






i
 
 


[1] R.G. Soekadji, Antropologi, ( Jakarta : Erlangga ). Hal. 7
[2]  Sugeng puji laksono, Petualangan Sejarah, ( Malang : UPT penerbitan UMM ). Hal.8
[3]  Kuntjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, ( Jakarta : PT. Rineka Cipta ). Hal.31